Oleh: Sirojul Munir

Satu Abad lahirnya Nahdlatul Ulama’ bagi seorang santri yang tidak begitu mengerti tentang pentingnya Kiyai, bukanlah hal yang begitu istimewa. Pasalnya, acara resepsi satu abad di Sidoarjo tersebut, akan dianggap hanya tentang sebuah momen waktu saja, tidak ada yang perlu dianggap berlebih. Bedahalnya apabila dalam hati seorang santri yang berusaha menguatkan sambungan dengan sosok guru, yang belakangan lumrah para tokoh agama ini diistilahkan sebagai “Murobbi Ruh” maka resepsi puncak tersebut merupakan sebuah acara penting.

Bagaimana tidak penting ? Hampir semua pesantren – pesantren mu’tabaroh ditanah Jawa dan Madura bahkan Nusantara masih tersambung dalam satu sanad keguruan. Sebab itu, bangga akan berdirinya Nahldatul Ulama’ selama satu abad berarti merupakan bentuk kebanggan santri pada perjuangan para kiyai dari masa ke masa dalam menjaga nilai nilai islam Aswaja.

Jika kita mau membaca sejarah secara detail cikal bakal Nahdlatul Ulama’ akan ditemukan bahwa : NU berdiri, diperjuangkan, dan direstui oleh beberapa guru besar para kiyai pesantren. Mulai dari tanah Madura Syaikhona KH Kholil Bangkalan, Hadratusy Syekh KH Hasyim Asyari, dan sejumlah kiai dan wali lain yang juga berkontribusi dalam tegaknya Organisasi Islam yang belakangan memiliki anggota dan cabang terbesar di dunia tersebut. Sanad keguruan dari para kiai – kiai NU jika diteliti lebih jauh akan bertemu dalam satu guru yang berkesinambungan antar pesantren di Indonesia khususnya di Tanah Jawa.

Sebabnya sejak awal, sebagaimana yang telah disampaikan Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU kepada Dahlan Iskan di podcast disway nya tentang resepsi puncak 1 Abad tersebut adalah sebuah momen untuk ngalap berkah dari NU, secara langsung ketika diwawancarai Jawa Pos Gus Yahya menegaskan bahwa acara kita ini bukannya ingin hura hura tetapi ingin megambil berkah NU. Lebih spesifik kepada para Masyayikh dan Muasis .

Dalam sambutanya di Gor Delta Sidorajo kemaren Gus Yahya dengan gagah menyampaikan bahwa satu abad ini adalah Satu Abad Riyadoh, Satu Abad Tirakat, Tirakat dari Wali Wali, Tirakat dari Para Kiyai, Tirakat dari segenap warga pecinta Nahdlatul Ulama’. Dalam sambutanya ini terlihat betul bahwa acara tersebut tidak sekedar seremonial akan tetapi sebagai bentuk refleksi atas perjuangan para pendahulu. 

Refleksi Perjuangan Para Kiyai

Atas usulan KH Mas Alwi, disetujuilah penamaan organisasi islam dengan nama “Nahdlatul Ulama” disingkat dengan NU. Secara keguruan KH Mas Alwi ini adalah santri KH Kholil Bangkalan, satu angkatan bersama KH Ridlwan pencipta lambang NU dan KH Wahab Hasbullah. Cerita yang cukup menginspirasi dari sosok beliau ialah pelayaranya menuju Belanda dan Perancis untuk mencari haqiqat makna Reinanssance (Pembaharuan) disaat pada waktu itu sedang digerakkan oleh kalangan Muhammadiah.

Ketika KH Hasyim Asyari bertanya tentang alasan mengapa mengusulkan nama Nahldtaul Ulama’ kok bukan Jamiyah Ulama’ kepada sosok tokoh NU yang pada masanya pernah berlayar hingga ke Eropa tersebut menjawab : “Karena tidak semua Kiai memilki jiwa Nahdlah (bangkit). Ada Kiai yang sekedar mengurusi pondoknya saja, tidak mau perduli terhadap Jamiyah”.

Begitu berfilosifis makna dari nama organisasi yang diusulkan tersebut. Sebab jika mau membaca realitas yang ada , NU telah terbukti mewadahi beberapa Kiai, Ulama dan Santri penggerak dan militan dalam perjuangan keislaman maupun kemasyarakatan. Kiprah mereka untuk bangsa bahkan dunia telah mampu membuat perubahan yang lebih baik.

Jiwa Nahdlah tokoh – tokoh di NU tidak sekedar membesarkan nama pribadi akan tetapi benar–benar membesarkan nama Jamiyah. Hampir selaras dengan apa yang disampaikan Almaghfurlah KH Sahal Mahfudz, Rois Am PBNU tahun 1999 – 2014 bahwa : Untuk menjadi baik itu mudah tinggal diam saja sudah baik, yang sulit adalah bermanfaat sebab butuh perjuangan.  

Lebih lanjut kita bisa membaca sejarah para tokoh NU dalam beberapa buku yang telah banyak ditulis oleh intelektual islam. Disana akan ditemukan sebuah perjuangan, dan riyadhoh para muasis dalam mendirikan ormas islam ini untuk kita jadikan tauladan. Organisasi NU tercipta dan berdiri tidak sekedar peresmian, dalam prosesnya juga terdapat suluk yang ditempuh melalui jalar kewalian. Tongkat, Tasbih, dan mandat Ya Jabbar Ya Qohhar yang disampaikan KH Kholil Bangkalan kepada Hadratusy Syech Hasyim Asyari merupakan bukti akan keberkahan dan kekeramatan.

Nahdlatul Ulama’ Sebagai Harokah

Nahdlatul Ulama’ sebagai organisasi yang pilar utamanya menegakan panji islam dengan beraqidahkan Ahlusunnah Waljamaah, dalam satu sisi juga bergerak bagi maslahat kehidupan masyarakat. Mulai dari sosial, ekonomi, pendidikan, dan beberapa sektor yang lain. Oleh sebabnya tidak bisa dihapus dalam sejarah bangsa bahwa :

Kemerdekaan bangsa kita juga karena didominasi perjuangan para santri dan masyarakat akar rumput yang kemudian oleh Kh Abdurahman Wahid disebut sebagai masyarakat sub kultural. Perjuangan heroik dari mereka ini karena satu tekad dan komando  dari para kiyai pesantren yang satu diantaranya adalah fatwa Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945.

Kendati para kiai pesantren mendirikan Ormas yang tidak hanya fokus dengan dakwah islamnya akan tetapi pula bergelut dalam persoalan kebangsaan, bahkan saat ini lebih terlihat sebagai ormas dengan hanya dipersibuk masalah kemasyarakatan saja, akan tetapi sejatinya gerakan diselain dakwah islam tersebutlah merupakan suatu realitas dari haqiqat ilmu agama islam itu sendiri

Gerakan gerakan kemasyarakatan tersebut merupakan sebagai kedisiplinan dalam diri seorang Ulama’ atas tanggung jawabnya mengamalkan ilmu. Dakwah tidak saja dimaknai dengan berbentuk ceramah agama dan kajian kitab, akan tetapi pula pengaplikasian atau realitas dalam setiap nafas kehidupan yang dihadapi.

Fikih Sebagai Dasar Pergerakan.

Nahdlatul Ulama’ bukan Badan Perekonomian akan tetapi NU bermuamalah, bukan juga partai politik akan tetapi NU ikut berpartisipasi dalam jalan politik, bukan juga lembaga pendidikan akan tetapi turut mencetak, mewadahi dan merawat sumber daya manusia yang berkompeten dan berwawasan peradaban. Maka, lebih dari itu sebenarnya, NU dirintis sebagai organisasi guna menjalankan amanah Nabi Muhammad untuk menegakkan dan melestarikan panji agama agar tidak senantiasa terkikis oleh ganasnya zaman.

Sebagai organisasi yang terlahir dari pesantren, Nahdlatul Ulama’ memiliki corak beragama yang khas. Terlihat dari kajian fikih tingkat tinggi dipesantren yang disebut dengan Bahstul Masail selalu mewarnai pergerakanya ditengah tengah masyarakat. Dari diskusi dalam Bahstul Masail inilah kemudian beberapa problematika keumatan yang butuh untuk dikaji dari perspektif Fikih akan selesai setelah menyelesaikan diskusi yang begitu detail, dan menguras pikiran.

Tidak heran hal tersebut terjadi. Sebab, kekuatan NU dalam berfikih sangat kental mulai dari sejak pertama kali NU berdiri, diawali dengan terbentuknya komite hijaz untuk membawa misi fikih kepada penguasa Saudi agar supaya tetap memberikan kebebasan bermadzhab. Dilanjutkan dengan fatwa Resolusi Jihad, pemberian gelar Waliul Amri Adldorori Bisyaukah kepada presiden Soekarno, penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi karena diwajibkan pemerintah orde baru, dan beberapa ketetapan lain. Kesemuanya itu lahir dari proses kajian fikih tingkat tinggi dari para ulama’.

Bahkan beberapa tokoh NU pun dalam fikih telah mewariskan sebuah pemikiran yang komprohensif dan visioner. Seperti KH Bisri Syansuri dengan Fikih Kemaslahatan, KH Sahal Mahfudz dengan Fikih Sosial, KH Abdurahman Wahid menyampaikan Fikih Sebagai Etika Sosial, pemikiran KH Ali Yafie perihal Fikih Lingkungan, dan KH Masdar F. Masudi dengan Fikih Keadilan. Sebab itu guna melanjutkan jejak pendahulunya KH Yahya Cholil Staquf mewacanakan fikih yang lebih utuh dan lebih mengena tidak hanya untuk indonesia akan tetapi juga bagi kehidupan dunia yang disebut : Fikih Peradaban.

Membaca jejak para kiai NU ini begitu luar biasa dan selalu terlihat dalam setiap derap langkahnya mengandung maslahat yang luas dan ramping bagi kehidupan umat. Ulama’ kita begitu jeli dalam melihat gejala yang timbul ditengah tengah masyarakat. Sebagaimana yang selalu diingatkan oleh Rois Am PBNU KH Miftahul Akhyar didalam pidatonya bahwa karakter seorang ulama’ yang seharusnya adalah  al ‘aakif ‘ala dinihi wal ‘arif bi haali qaumihi yaitu orang yang senantiasa berpegang teguh pada agama dan mengetahui perilaku masyarakatnya. Sejurus dengan salah satu kaidah menyampaikan “ al muhafdzotu ‘alal qodimis sholih wal akhdu biljadidil ashlah” yang berarti “memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik”.

Harokah para ulama’ kita telah mewariskan sesuatu yang berharga. Mereka konsisten dengan ajaran Rosulullah akan tetapi pula cerdas untuk ideal dalam membaca realitas. Islam oleh para ulama’ kita ditampilkan sebagai anak zaman bukan musuh zaman, islam sebagai solusi bukan caci maki, sehingga hukum islam dijadikan sebagai harokah perubahan bagi kemaslahatan hidup yang lebih harmoni. Disinilah menurut penulis mengapa ulama’ NU selalu memiliki tempat dalam beberapa sektor, mulai dari sebagai pakar Ekonomi Syariah, Wakil Presiden, Gubenur, Mentri, Polisi, Mentri, Pedagang, hingga Petani.

Selamat datang abad kedua wahai organisasi keramat, menjemput peradaban untuk merawat jagad.

.