Oleh: Uwasy Al Qorny
Pembelajaran dan penelitian yang dilakukan manusia telah mencapai status master elite dalam mengaliri peran intelektual dan spritual kehidupan. Banyak varian metode praktis dan canggih yang sudah mereka terapkan. Sekadar dalam persiapan untuk pembekalan perjalanan mencapai tujuan. Namun sangat banyak sesuatu yang dulu sangat ditakuti untuk dilakukan, kini telah diamalkan dengan tanpa ada rasa resah dan seolah sedang tidak melakukan.
Hal ini sudah relevan terjadi di era sekarang. Banyak tingkah kejelekan yang menjadi bumerang dan mendekonstruksi teks-teks keagamaan dengan plesetan-plesetan menyimpang. Mari kita hilangkan plesetan-plesetaan teks keagamaan dengan kembali berkhittah pada aliran yang sesuai dengan peraturan.
Maka dari itu, dalam tulisan ini kami akan mengajak pembaca untuk kembali semangat menghadapi plesetan-plesetan setan yang telah berhasil mendekonstruksi pikiran manusia dalam melaksanakan ibadah ramadhan.
Banyak pertanyaan berdatangan dan sering terdengar “Bukankah di bulan Ramadhan setan sudah di penjara? Jin-jin sudah diikat kembali? Tapi mengapa manusia masih sering bermaksiat kepada Allah dalam melaksanakan ibadah puasanya? Apakah itu hanya ungkapan semata saja?
Hal tersebut bukanlah ungkapan saja, telah disebutkan dalah hadis Sahih Bukhori Muslim
أخرج الإمام البخاري ومسلم في صحيحيهما بسندهما مِن حديثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ» وهذا لفظ البخاري .
Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa ketika datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga terbuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup dan para Syaithan dibelenggu, dikurung dipenjara. Secara lafadz, sudah jelas Syaithan yang kerjaannya selalu menipu daya manusia, Syaithan yang selalu mengganggu ibadah manusia pada saat bulan Ramadhan tiba, semuanya dibelenggu, dikurung dipenjara. Tapi mengapa di bulan Ramadhan manusia masih banyak yang melakukan dosa, banyak yang bermaksiat kepada Allah SWT?
Dalam problematika kali ini, ulama hadist berbeda pendapat tentang memaknai setan dibelenggu. Seperti pendapat Badruddin Al-Aini bahwa secara harfiah makna sulsilat atau shuddifat adalah belenggu yaitu dengan besi, sedangkan menurut Abu Muhammad setan dibelenggu hanya bagi orang-orang berpuasa yang benar-benar menjalankan rukun dan syarat-syarat puasa. Dan masih banyak ulama hadist lainnya.
Walhasil, makna dari setan dibelenggu itu tidak dapat dipahami sepenuhnya secara harfiah. Karena lebih pasnya mungkin Allah membatasi ruang gerak setan, Allah tidak memberikan waktu luas seperti setiap harinya. Sebab lain manusia masih tetap membeberkan kemaksiatan adalah karena nafsu ammarah (Nafsu mengantarkan kejelekan) pada dirinya masih belum bisa diselamatkan. Masih bergejolak api-api kejelekan yang murni timbul dari dirinya.
Jadi, jika dibulan yang penuh ampunan ini, manusia masih banyak melakukan kemaksiatan, masih banyak mendekonstruksi teks-teks keagamaan dengan plesetan-plesetan menyimpang. Masih banyak beramal tak sesuai aturan. Itu bukan murni semau kesalahan setan, tapi ibadah puasa kita yang belum menyempurnakan rukun dan syarat-syaratnya, Kelengahan kita dalam melawan nafsu ammarah kita. Sebab, jika kita masih melakukan maksiat dalam keadaan berpuasa, maka pahala puasa kita tidaklah sempurna bahkan bisa menjadi membatalkan.
Oleh karena itu, berusahalah menjauhi perkara-perkara haram, berusahalah menghindari amalan-amalan yang tidak sesuai aturan dan yang paling penting berusahalah melawan nafsu amarah kita dengan sering-sering beristighfar, bersyukur dan mengamalkan ilmu agar sesuai dengan harapan
Ramadhan ke- 06
Sumber al-Mafatiih fi Syarhil Mashaabih (3/12)
An-nihayah fi gharibil Hadist (4/315)
Umadatul Qari’ / Abu Muhammad