Penulis: Laili Arji
Asrama: A 04
Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, begitulah kalimat yang aku temukan di halaman ke 7 buku saku yang Arina titipkan padaku, gadis bertubuh lebar teman satu asramaku. Kalimat ini memang benar adanya mewakili semua perasaan anak perempuan di muka bumi ini tapi tidak denganku, cinta pertamaku adalah kakek, pria yang telah merawatku paska kematian ibu sejak aku berusia 5 tahun. Aku sangat membenci ayah, bagaimana tidak, dia pergi meninggalkanku sejak aku berusia 6 bulan dan Ilzam kakakku 10 tahun, ayah pergi dengan seorang wanita yang menjadi alasan baginya untuk pergi meninggalkan kami. Mungkin aku tak akan sebenci ini jika ayah masih muncul dihadapanku, tapi nyatanya bak ditelan bumi, ayah tak pernah datang untuk menemuiku. Apa ayah selupa itu?.
“Lihat apa ayo?” Tanya Arina yang memergokiku membaca buku sakunya tanpa izin.
“lihat apa?. Ga ada” Sahutku mengelak, sembari mengambil satu cup es batu pesananku.
“Heran deh ya aku ke kamu, suka banget makan es batu, nanti ngilu tuh gigi baru tahu rasa” cerocos Arina yang sekarang bergabung duduk di sampingku.
Aku hanya cengengesan meresponnya. Sebenarnya memakan es batu bukanlah kesukaanku, apalagi hobiku, tapi tidak ada pilihan lain bagi pengidap gagal ginjal kronis sepertiku karena tidak baik terlalu banyak minum air, setidaknya es batu bisa meredakan rasa hausku. Aku tidak tahu seberapa parah penyakitku, karna aku sudah tidak lagi kemoterapi, minum obatpun ketika sedang kambuh, semuanya sudah aku serahkan kepada Allah, hanya berdoa itu saja tanpa menuntut sembuh. Jika hanya lebam-lebam sudah tak aku ambil pusing itu sudah biasa, yang terpenting tidak sakit, jika terus menerus meminta sembuh aku takut tak bisa bersyukur dan lebih parahnya lagi menyalahkan Allah akan penyakit ini, seperti 3 tahun yang lalu, awal-awal ketika aku tahu ginjalku tak sehat lagi. Tapi sekarang tidak lagi, aku sudah dikuatkan oleh keadaan, aku yakin ada saatnya Allah akan menyembuhkanku, Allah memberikan ujian ini padaku laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa, aku hanya perlu bersabar innallaha ma’assoobiriin.
Bel masuk pun berbunyi, aku dan Arina dengan cepat masuk ke kelas, begitupun teman-teman yang lain. Tak lama Ustadz yang mengisi pelajaran telah rawuh, dari sekian banyak tenaga pengajar disini, beliau lah yang paling aku sukai, tak terasa sudah 1 jam KBM berlangsung “ilal liqo’ ma’assalamah tsummassalamua’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” dawuh beliau menutup perjumpaan siang ini.
***
Mentari tak terlihat lagi, tergantikan dengan bulan berbentuk sabit yang menghiasi langit di bumi ini, dengan sedikit berlari aku menyusul Arina dan teman-teman yang lain sedang berjalan melangkah ke arah sekolah untuk mengikuti kegiatan mengaji Al-Qur’an.
“Ga usah lari-lari kenapa, kalok nanti sakit kamu kambuh lagi gimana” Komentar Arina mendapatiku dengan nafas ngos-ngosan setelah berhasil menyusul mereka.
“Ga bakal Rin” Responku dengan senyuman.
Kami pun berangkat mengaji bersama. Tak terasa adzan isya’ 5 menit lagi, pertanda kegiatan mengaji akan segera berakhir, sejak sore tadi aku sudah tak enak badan, sesekali kepalaku pusing dan sekarang kerongkongan sudah mulai gatal, entah kenapa. Tepat saat bel pulang berbunyi aku batuk darah, tanganku dipenuhi bercak merah, pandanganku mulai kabur, kepalaku semakin pusing, badanku mulai lemas tak berdaya, setelah itu aku terjatuh dan hilang kesadaran, teman-teman sekelas maupun mu’allimah langsung menhampiriku histeris.
Ketika membuka mata, aku tersadar bahwa ruangan yang kutempati bukan di pesantren lagi, aku berada di kamar berukuran kecil dengan nuansa putih yang dilengkapi gorden berwarna hijau. yap benar sekali, kamar ini adalah kamar yang biasa aku tempati ketika dirawat. Saat itu, yang pertamakaliku dapati adalah pria seumuran 28 tahun, satu-satunya keluarga yang ku punya saat ini, Ilzam kakakku.
“Syukurlah, kamu sudah sadar” Ucap Kak ilzam khawatir sembari menekan tombol di belakang brankarku untuk memanggil dokter. Beberapa menit kemudian dokter perempuan datang bersama dua perawat dibelakangnya.
“Kakak kamu bilang, kamu mengidap gagal ginjal sejak 5 tahun ini, benar?.
aku mengangguk mengiyakan
“Lalu kenapa kamu tidak mau kemoterapi lagi?” Tanya dokter cantik itu sembari tersenyum.
“Sakit ku semakin parah ya dok?” Air mataku mengalir bersamaan dengan pertanyaan yang ku lontarkan. Dokter dengan name tag Adilah tersebut mengangguk.
“Bukannya Dokter mau menakut-nakuti, tapi dokter harus bilang yang sebenarnya agar kamu mau lagi kemoterapi, ini untuk kesehatan kamu agar kamu pulih lagi, ga usah takut gini wajahnya, insya Allah kamu akan sembuh”Jelasnya sembari mengusap air mataku.
***
Setelah beberapa hari diopname akhirnya dokter mengizinkanku pulang. Sebenarnya aku sangat ingin kembali ke pesantren, berada dirumah sangat membosankan, tapi kak Ilzam tak mengizinkan, kakak bilang menunggu keadaanku benar-benar pulih. Tiba-tiba Terdengar deruman mobil dari depan rumah, setelah menutup mushaf, aku pun beranjak dari dudukku hendak membukakan pintu. Sekarang kak Ilzam sedang tak ada di rumah jadi aku yang bertugas menerima tamu. Aku terhenyak seketika melihat pria bertubuh tinggi besar yang tak pernah kutemui sebelumnya.
“Rumahnya Pak Halim?” Tanya pria paruh baya itu setelah aku bukakan pintu. Aku mengangguk mengiyakan. Apa pria ini teman kakek?.
“Saya boleh menemuinya?” Tanyanya lagi.
“Maaf pak, kakek sudah meninggal 2 tahun yang lalu” Ucapku menjelaskan.
“Kamu Aisyah Roya kan, putrinya Fakhita?”
Aku mengangguk lagi, sebenarnya siapa pria didepanku ini kenapa beliau mengenal namaku dan ibuku.
“Ini ayah, Roya” Jelas pria itu mengenalkan diri.
Lagi-lagi aku terhenyak, bingung mau menjawab apa, aku terlalu lama ditinggal oleh sosok ayah yang dulu sangat kudambakan sehingga lupa akan rupa wajahnya. Meski tidak tau betul apakah pria ini benar-benar ayahku atau bukan tapi aku tetap mempersilahkannya masuk. Seandainya islam tak mengajarkan tentang cara memuliakan tamu, sudah pasti aku mengusirnya.
“Bagaimana kabarmu nak?” Tanyanya sok akrab.
“Baik”.
“Kakak mu?” tanyanya lagi.
“Kakak baik, dia sedang menghadiri kondangan di desa sebelah. sebentar aku telfonkan” Sahutku sembari beranjak dari kursi kayu untuk menghubungi kakak. 5 menit kemudian kak Ilzam datang, memecahkan kecanggungan antara aku dan pria yang mengaku ayahku ini. saat itu aku sedikit bingung, ‘kenapa kakak tersenyum kepadanya, seolah-olah dia telah mengenal pria itu’.
“Sudah dari tadi yah” Ucap kak ilzam akrab sembari mencium tangan kanannya.
Jadi memang benar pria dihadapanku ini adalah ayahku. Aku sangat heran mengapa kak Ilzam terlihat biasa saja terhadapnya, dari kedua netranya pun aku tak melihat ketidak sukaan sedikitpun.
“Baru tiba nak”.
Kak Ilzam duduk di sampingku lalu memintaku untuk membuatkan kopi. ‘Sudah kupersilahkan masuk untung‘ Gerutuku dalam hati seraya beranjak untuk membuatkan kopi.
Setelah berbincang-bincang lama, pria itu akhirnya pulang, dia hendak mencium keningku tapi aku menolaknya, dia tidak marah melainkan tersenyum pahit terlihat ada kekecewaan dibalik senyumnya itu. ‘biarkan saja, siapa suruh menelantarkan ku selama ini. Itung-itung hukuman dariku’. Beberapa orang tua memang seperti ini, kalok masih kecil aja gak diingetin eh kalok udah besar dibutuhin. Ternyata benarnya sesuatu akan dicari jika telah dibutuhkan. Sepeninggal ayah, kak Ilzam menegurku agar ridak berbicara ketus dan menolak untuk dicium ayah. ‘Bagaimanapun beluai tetaplah ayah kita. Ridhollahi fii ridhol walidain wa sukhtullah fii sukhtil walidain’ Ujar kakak.
***
Sejak hari itu, ayah sangat sering kerumah dan kakak selalu menyambutnya dengan baik, sedangkan aku tidak menyukai itu. Ayah bilang, dia tidak sempat mengunjungi kami karna sedang berada di Hongkong, tapi bagiku itu bukanlah suatu alasan yang tepat.
“Kak! aku udah 2 minggu di rumah kapan aku kembali ke pesantren?” Tanyaku menghampiri kal Ilzam yang baru saja pulang bekerja.
“Nunggu pendapat dokter dek. Besok waktunya komoterapi kan?, kalok dokter bilang tubuh kamu benar-benar fit baru kakak bolehin kembali ke pesantren” Sahut kak Ilzam sembari merangkul tubuhku. “Yang kamu rasain gimana?, sudah fit?”.
“Fit banget dong” Jawabku antusias.
“Yaudah, kakak mandi dulu” Pamitnya seraya mengusap rambutku gemas.
Sebenarnya tubuhku belum benar-benar fit, yang aku rasakan semakin hari tubuhku semakin melemah. Hampir setiap malam aku tak bisa tidur karena punggung dan pinggangku terasa sakit tapi aku tak pernah mengeluh kepada kakak jika masih bisa kutahan aku tak akan mengatakannya, karena sudah cukup aku merepotkannya.
Malam harinya, aku terbangun karena merasakan rasa sakit yang begitu hebat dibagian dada, aku benar-benar tak kuasa lagi.
“Kak…!” Panggilku. Kak ilzam yang mendapatiku merintih kesakitan langsung membawaku ke rumah sakit. Terlihat ekspresi khawatir di wajahnya.
Sinar matahari dari jendela kamar ruang inap membangunkanku dari ketidak sadaran, yang pertamakali kulihat adalah kak Ilzam, dia tidur dengan posisi duduk di kursi samping brankarku, kakak pasti lelah menemaniku semalaman, terlihat sangat jelas lingkaran hitam dikedua mata indahnya.
“Kak!” Panggilku dengan suara lirih, berharap kakak mendengar panggilanku. Kak Ilzam membuka matanya sembari menguap.
“Sudah bangun?” Tanya kak Ilzam sembari mengusap kepalaku “mau minum, mau makan atau mau ke kamar mandi?”.
“Ga mau kemana-kemana kak”.
“Yaudah kalok ga mau kemana-kemana, tidur lagi gih!, Dokter Adilah nyaranin kamu banyak-banyak istirahat”.
“Kalok aku tidur lagi, aku takut ga bisa bangun lagi kak. Sakit ku semakin parah ya kak?”.
“Ga usah mikir yang enggak-enggak!, kamu tidak apa-apa kok” sahut kak Ilzam sembari mengusap air bening yang telah membentuk sungai-sungai kecil di kedua pipiku.
aku memegang erat tangan kakak yang sedang mengusap air mataku.
“Aku tau sifat kakak, jangan sok kuat!, kalo mo nangis, ya nangis aja. Kakak gak usah bohong hanya karna ingin nguatin adek. Aku yang ngerasain kak, sejak pertama kali mengidap gagal ginjal aku gak pernah ngerasain sakit yang separah ini, berasa mau mati kak, sakit banget. Kalo aku mati, kakak dan ayah gimana?, aku takut banget kak apa lagi aku belum punya bekal untuk menghadapnya”.
Sang kakak memejamkan mata. memang benar kata Roya, dia sangat rapuh sekarang, takut kehilangan adiknya, hanya Roya yang sekarang ia punya. Sudah lama dia menahan tangis demi membuat Roya tenang. Dia tak mau membuat adeknya berpikir yang aneh-aneh, hingga sekarang pun dirinya masih berpura-pura sok tegas agar bisa meyakinkan Roya.
“Sudah cukup dek!, jangan bicara ngelantur seperti ini, kakak ngerti kamu sekarang sedang sakit, tapi jangan seperti ini, sebentar lagi transplantasi ginjal, kamu tenang yah” Ucap Ilzam menenangkan adiknya.
Aku menggeleng, bukannya tidak mau, tapi aku sadar bahwa ginjal bukan sesuatu yang dapat di beli oleh orang-orang kelas menengah kebawah sepertiku.
“Kenapa gak mau?, kamu gak usah mikirin biaya atau yang lainnya, sekarang kita punya Ayah, dan sekarang ayah sedang berada di luar negeri cari donor ginjal buat kamu, kamu mau kan nanti transplantasi ginjal?. Dokter bilang tranplantasi ginjal adalah cara satu-satunya untuk kesembuhanmu, bukannya kakak mau percaya sepenuhnya sama dokter, benar memang kalo hanya tuhan yang bisa menyembuhkan penyakit apapun, tapi mungkin ini adalah jalan untuk kamu sembuh, kamu mau kan dek?”. Bujuk Ilzam sekali lagi.
Dengan terpaksa aku mengiyakan, walaupun sebenarnya ada rasa takut yang menyelimuti. Aku takut jika seandainya tubuhku nanti tak bisa menerima dengan baik ginjal barunya, karna resiko terbesar jika transplantasi ginjal gagal adalah kematian.
“Effort will not betray the results. Apa yang telah ayah usahakan telah menemukan titik temu, akhirnya ayah menemukan ginjal baru untukku, lebih beruntungnya lagi ginjal yang akan didonorkan kepadaku diketahui pemiliknya, yaitu berasal dari putri teman ayah yang seumuran denganku di Singapore. Teman ayah memberikan ginjal putrinya itu kepadaku dengan cuma-cuma, beliau mengatakan detik-detik putrinya tiada sebab mengidap kanker otak berpesan agar memberikan organ tubuhnya kepada orang yang benar-benar membutuhkan.
***
Tak terasa dua bulan sudah terlewati, lantunan Ayat suci Alquran yang saling bersahutan kembali kudengar lagi, kaki ku melangkah memasuki area pesantren yang sudah lama kutinggalkan. Arina dan Shalwa yang melihatku kembali ke pesantren, tergesa-gesa menutup Al- qur’annya dan segera menghampiriku dengan senyuman.
“Roya…! Aku kangen banget sama kamu, akhirnya kamu balik juga” Ucapnya kegirangan sembari memeluk tubuhku erat. Shalwa yang memang tak begitu akrab denganku hanya menyalamiku dan menanyakan bagaimana kabarku.