Penulis: Isrofi’ul Anisa
Asrama: B01
Kerinduan Yang Tak Pernah Terbalaskan – Meninggalnya adik dan ayah dua bulan lalu menimbulkan luka bagiku dan ibu, yang rasa-rasanya tidak bisa disembuhkan. Rasa kehilangan itu masih bersemayam dan sangat membekas dalam hati dan menghantui fikiran. Saat dokter mengatakan bahwa nyawa ayah dan adik tidak dapat ditolong, bukan berarti aku tanpa usaha mengikhlaskan kepergian mereka. Aku juga mencoba menanamkan keyakinan dikala hatiku terpuruk, yaitu keyakinan yang hakiki dan benar bahwa setiap manusia pasti akan mengalami kematian, manusia hanyalah titipan Tuhan yang sewaktu-waktu akan diambil lagi tanpa mengadakan perjanjian, maka dari itu aku harus siap kehilangan.
Untuk saat ini aku hanya menyembunyikan rindu yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Tapi ibu? Ia seperti tak punya semangat dalam kehidupan, sepasang matanya menjelma palung yang dalam bagi kesedihan yang bersemayam. Ada yang berubah dengan mata itu semenjak ayah dan adik telah di panggil oleh Tuhan. Sepasang mata yang telah meredup itu seperti selalu ingin menumpahkan beban rindunya melalui air mata.
Bukan hanya hampir setiap hari, tapi bahkan setiap saat, ibu mengelap foto ayah dan adik yang ada di atas meja ruang tengah, tak jarang air matanya tumpah membasahi gambar ayah dan adik yang kini sudah menjadi sebuah kenangan. foto itu di bingkai dan diletakkan secara berdiri. Sehingga apa yang ibu lakukan, membuat foto itu selalu tampak mengikat seakan masih baru. Ibu memang tidak pernah mengeluarkan air mata saat prosesi pemakaman ayah dan adik, tapi aku selalu melihat tatapan itu seperti berkata kalau ia ingin sekali bertemu dengan ayah dan adik. Sekali lagi, ibu benar-benar belum dapat menerima kepergian ayah dan anak bungsu kesayangannya itu.
Atas perilakunya itu, ibu pernah kutegur beberapa kali, teguranku tidak pernah mempan, tidak kehabisan akal, aku mencoba menggunakan cara lain. Aku kini harus akrab betul pada masa-masa dimana aku selalu mengajak ibu ke tempat-tempat yang indah, merawat tanam-tanaman di halaman rumah yang tidak terlalu luas. Berusaha dengan lebih keras dan sabar untuk menuruti semua kemauannya. Tapi semua usaha itu hanya berujung pada kegagalan. Aku merasa berhadapan dengan tembok besar nan kokoh, yang mana aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menaklukkan keperkasaan dan kegagahannya. Rindu itu mengabadi di matanya.
Dan pada akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap ibuku. Aku tidak mampu membuatnya lupa dari perasaan tidak rela kehilangan. Ibu masih tetap mengelap foto ayah dan adik setiap saat, lalu mengatur letak foto itu dengan cermat. Seolah benda itu adalah benda yang sakral. Awalnya aku tidak pernah berfikir bahwa perilaku ibu ini akan semakin menjelma menjadi perilaku yang aneh dalam dirinya. Bahkan ini tidak lebih dari sesuatu yang gila
Sore itu, saat aku pulang dari kuliah, ibu duduk di kursi teras dengan handphone yang menempel di telinganya. Rupanya ibu sedang berbicara asyik dengan orang di seberang sana, bahkan sampai-sampai ia hanya menerima uluran tanganku tanpa berbicara. Sepuluh menit kemudian, ibu belum juga ke dalam. Sementara itu aku asyik mengisi perut. Hingga aku selesai makan, ibu belum juga kembali. Akhirnya aku melangkah menuju teras dan ibu masih setia berbincang ria. Aku membatin, apa sih yang sedang ibu bahas sampai telponan begitu lama?
“Ibu sedang telpon siapa?” tanyaku. Ibu sekejap menempelkan telunjuknya ke mulut, memberiku syarat supaya aku diam.
Akupun memilih kembali ke dalam, pun ibu memang sedang berbincang dengan seseorang di seberang sana yang tidak aku kenal. Hingga setengah jam kemudian, ibu belum juga ke dalam. Azan maghrib berkumandang, bahkan ibu masih tetap asyik telponan. Ini sungguh aneh. Padahal ibu adalah orang yang selalu melarangku melakukan aktivitas saat adzan berkumandang dan menyuruhku untuk segera mengambil air wudhu. Aku menjadi penasaran, siapa sih orang yang menjadi lawan bicaranya? Aku kembali membatin dengan perasaan heran nan aneh. Aku mencoba menegur ibu untuk segera menghentikan telepon. Dia bilang,
“Sebentar lagi”.
Sampai waktu isya’, ibu belum juga berhenti. Kesabaranku telah habis. Dengan nada kesal aku menyuruh ibu berhenti dan mataku langsung dibuat membelalak saat ibu berkata,
“Sudah dulu, yah. Ini anakmu sudah menegur untuk sholat. Memang salahku juga, keasyikan melepas rindu, sampai lupa sholat. Oh iya, salamkan juga pada reihan, jangan nakal-nakal disana”
“Ayah?, Reihan?” batinku. Dalam sekejap aku langsung gemetar.
Ibupun menutup percakapan dengan senyum mengembang. Aku mengingat-ingat kembali. Siapa saja orang yang di panggil dengan sebutan yang diucapkannya tadi? Kepada nenek? Setahuku ibu tidak memanggil dengan sebutan seperti itu. dan kenapa ibu menyebut nama Reihan pada orang yang ia panggil, Yah? Reihan bukankah adikku? Tapi dia juga telah meninggal bersama ayah. aku lebih keras mengingat-ingat. Tidak kutemukan seseorang dalam kepala. Aku hanya ingat ayah. Ya. Ayahku sendiri. Padahal ayah sudah tidak ada.
“Ibu bicara dengan siapa tadi? Mengapa ibu memanggilnya, yah?” tanyaku dengan nada gemetar serta keringat yang mengalir deras di dahi, jelas saja, panggilan itu tidak bisa diterima akal sehatku. Ayah sudah meninggal dua bulan yang lalu, mana mungkin mereka hidup kembali, padahal aku sendiri yang ikut menguburkan jasadnya?
Ibu menatapku dengan senyum lebar, ia seperti sedang bahagia. Ini sangat beda dengan ekspresi ibu setiap hari semenjak kepergian ayah dan adik, biasanya ibu selalu memasang muka murung dan kesedihan yang menguasainya, tapi tidak dengan kali ini. Ia seperti sangat bahagia.
“Dengan ayahmu, dengan siapa lagi? Apakah ada orang lain yang ibu panggil ‘yah’ selain dia? Apa kamu lupa? Sudah ibu mau sholat dulu.”
Aku terbengong-bengong, jantung juga berdetak semakin tak karuan, yang rasanya tidak bisa aku kendalikan. Penasaranku belum selesai, hingga ibu selesai menunaikan sholat, ibu tetap besikeras kalau itu adalah ayah. Sedangkan, aku tidak bisa mengelak kalau ibu tidak sedang bercanda, tetapi aku juga tidak dapat mempercayai akan pernyataannya. Ibu malah marah padaku. Dan ia malah sakit hati karena aku menuduhnya telah berbohong. Ibu berlalu kekamarnya. Dan lucunya, begitu ia meluapkan amarahnya, aku tidak dapat memberikan perlawanan. Kemarahan ibu bagaikan sihir yang mampu membuatku diam.
Aku melihat handphone ibu ada di atas meja ruang tengah tepat ada di tengah-tengah antara foto ayah dan ibu. Ini sebuah kesempatan bagiku untuk menghilangkan rasa penasaran. Kebetulan aku juga tahu kata sandi handphonenya, sehingga itu tidak menjadi halanganku untuk melihat riwayat pada kontak nomor telepon. Tidak ada nama yang tertulis pada riwayat panggilan diterima. Apa ibu menghapusnya? Tapi kapan? Batinku bertanya-tanya
Penasaranku semakin besar, tapi aku mencoba menahannya. Kamar ibu masih terkunci dari dalam. Rupanya ibu masih tidak menyangka dengan tuduhanku yang menuduhnya telah berbohong. Dari luar, aku lontarkan permintaan maafku. Aku takut ibu sakit jika tidak makan. Ibu tetap tidak mau keluar. Tapi aku lega saat kembali dari rutinitas kuliahku, akhirnya ibu mau memaafkanku. Hanya saja keanehan itu terulang.
Suat hari, aku kembali mendapati ibu sedang berbincang ria lewat telepon. Kali ini durasinya lebih panjang dari pada yang kemarin. Beberapa kali ibu menyebut dengan panggilan ‘ yah’. Jelas tidak mungkin ayah hidup kembali. Ibu terlihat tidak sedang berpura-pura, ia seperti sedang menelefon sungguhan, tapi ini tetap saja tidak bisa diterima oleh akal sehatku. Setiap kata-kata yang diucapkannya benar-benar mengisyaratkan tentang kerinduan yang begitu dalam.
Hingga akhirnya aktivitas ibu berteleponan dengan orang yang katanya ayah menjadi sebuah rutinitas. Aku bermaksud mengajak ibu ke dokter jiwa untuk memeriksa kondisi mental ibu, tapi ibu malah marah besar padaku. Ia merasa bahwa dirinya telah dianggap gila, padahal niatku hanya ingin memeriksa dan memastikan keadaan ibu yang belakangan ini bersikap aneh dan tidak wajar.
Seiring berjalannya waktu, keadaan ibu semakin tidak wajar. Keanehannya semakin menjadi-jadi dan akupun juga sudah terbiasa akan hal ini. Sebenarnya aku lelah dengan semua ini, tapi aku harus tetap kuat dan sabar karena siapa lagi yang akan mengurusnya jika bukan aku.