blog.bakid.id – Puasa Tarwiyyah dan ‘Arafah merupakan dua puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal – tanggal tertentu di bulan Dzulhijjah, yakni tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Maka dari itu pihak kepengurusan pesantren menganjurkan semua santri untuk berpuasa pada hari tersebut yang bertepatan pada hari Selasa & Rabu khusus bagi santri dewasa.
Saat itu ada beberapa hal yang berbeda dari keseharian pesantren. Contohnya, kantin pesantren yang tutup lebih awal saat shif malam untuk mempersiapkan hidangan sahur di sepertiga malam , dan juga para santri harus bangun lebih awal untuk membeli makanan. Selain itu, suasana kantin saat sore hari dipenuhi oleh puluhan santri yang sedang mengantri membeli santapan berbuka.
Ada beberapa keutamaan pada kedua puasa tersebut, diantaranya:
- Sama dengan berpuasa satu tahun penuh
Hadis yang diriwayatkan Ali Al-Muairi, At-Thibbi, Abu Sholeh, dan Ibnu Abbas mengibaratkan puasa tarwiyah seperti berpuasa setiap harinya selama satu tahun. Sementara puasa arafah seperti puasa selama dua tahun.
“Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa satu bulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan puasa hari arafah seperti puasa dua tahun.”
- Pahala yang berlimpah dan ampunan dosa
Barang siapa yang menjalankan banyak ibadah sunnah seperti puasa tarwiyah dan arafah akan mendapatkan pahala yang berlimpah. Tak hanya itu, Allah juga akan memberikan ampunan dosa selama dua tahun, yang lalu dan yang akan datang.
Hal itu tercantum dalam Hadis Riwayat (HR) Muslim. “Puasa hari arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan yang akan datang, dan puasa Asyura (10 Muharam) dapat menghapus doa setahun yang lalu.”
- Hari yang istimewa
Hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Dalam kitab Riyadus Sholihin karya Syaikh Islami Muhyiddin, Ibnu Abbas meriwayatkan; Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut.
“مَا مِنْ أَيَّامِ العَمَلِ الصَّالِحْ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِيْ أَيَّامَ العَشْرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلُ اللهِ وَلَا الجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الِجهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذلِكَ بِشَيْءٍ”
Artinya: “Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah, daripada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian kembali tanpa membawa apa-apa”. (HR Bukhari).
Pewarta: Ebied & Reza